·        
·         Hati seperti burung, cinta adalah kepalanya dan dua sayapnya adalah harapan dan ketakutan.
·         Ia yang ditakdirkan Allah untuk masuk Surga, alasan-alasan yang akan membuatnya masuk kesana akan muncul dari bencana yang dialaminya, dan ia yang ditakdirkan Allah masuk neraka, alasannya muncul dari nafsu.
·         Hati yang jauh dari Allah adalah hati yang mengeras. Jika hati mengeras, mata pun mengering.
·         Kunci dari kehidupan hati terletak pada menjadi pantulan Quran, merendahkan diri dihadapan Allah tanpa terlihat orang lain, dan meninggalkan perbuatan dosa.
·         Penghambaan dan kepatuhan menerangi hati, menguatkannya, dan meneguhkannya, hingga menjadi cermin bening, berkilat karena cahaya.
·         Perbuatan baik tanpa ketulusan seperti seorang pengembara yang membawa kendi air dengan kotoran di dalamnya. Membawa kendi itu memberatkannya dan tidak memberinya keuntungan.
·         Kata-kata tetap menjadi budak bagimu, tetapi begitu ia meninggalkan mulutmu, kau menjadi budaknya.
·         Waktu ibarat pedang. Jika tidak dapat menggunakannya dengan benar, ia akan memotong kita.
·         Aneh sekali! Kau kehilangan sedikit saja dari milikmu kau menangis. Tetapi kau menyia-nyiakannya seluruh hidupmu, dan kau tertawa.
·         Setetes air mencair ke dalam lautan. Semua orang dapat melihatnya. Tetapi lautan yang menyerap ke dalam setetes air, jarang yang dapat mengikutinya.
·         Selama manusia mengkhawatirkan kapan ia akan mati, dan mengakui apa yang ada padanya adalah miliknya, segala pekerjaan sang Guru tidak berarti. Ketika kecintaan pada makhluk ‘aku’ dan apa yang dimiliknya mati, maka pekerjaan sang Guru selesai.
·         Aku tidak mengutip dari kitab suci. Aku hanya melihat apa yang kulihat.
·         Ayo kita hanyutkan diri kita di samudra ketiadaan dan muncul lagi berjubah pakaian keberadaan ilahi.
·         Manusia yang sesungguhnya adalah ia yang takut akan kematian hatinya daripada kematian raganya.
·         Ketika kau tidak memiliki pengetahuan, seseorang akan membawakanmu tanah dank au percaya bahwa itu adalah emas. 
·     Salah satu dari obat yang paling manjur adalah doa yang tidak pernah putus.
Hal – Hal Terbaik (1)
Seorang Membaca Al-Quran

·         Hal terbaik untuk dilakukan dipagi hari adalah sibuk shalat, membaca Al-Quran, mengingat Allah, dan mohon ampunan-Nya.
·         Hal terbaik ketika mengajar murid-murid atau orang bodoh adalah memusatkan perhatianmu pada mereka.
·         Hal terbaik ketika kita mendengar adzan adalah meninggalkan segera yang sedang kau kerjakan dan berusaha mengikuti panggilan adzan itu.
·         Hal terbaik selama mendirikan shalat wajib lima waktu adalah berusaha keras untuk melakukannya dengan sebaik-baiknya, dan tidak menunda-nundanya. Dan bagi kaum laki-laki pergilah ke masjid walau letaknya jauh itu lebih baik.
·         Hal terbaik untuk dilakukan ketika seseorang membutuhkan bantuan tenagamu atau uangmu, segeralah bantu orang tersebut, bebaskan dari kesedihannya, dan utamakan ini diatas shalat wajib yang biasa kau lakukan.

Hal – Hal Terbaik (2)
  • ·         Hal terbaik yang kau kerjakan ketika membaca Al-Quran adalah menghadirkan hati dan pikiranmu supaya dapat merenungkan dan mengerti seolah Allah secara pribadi menyampaikannya padamu.
    ·         Hal terbaik untuk dilakukan selama sepuluh hari terakhir pada malam bulan Ramadan adalah tinggal dimasjid dan jadwalkan kegiatan itu tanpa tercampur dengan kegiatan lainnya dan menjadi tidak khusyuk.
    ·         Hal terbaik jika suadaramu sakit atau wafat adalah mengunjunginya, hadiri pemakamannya, dan utamakan ini diatas ibadah wajib pribadimu atau kegiatan social lainnya.
    ·         Hal terbaik ketika musibah terjadi padamu atau orang-orang disekitarmu adalah lakukan kewajibanmu yaitu bersabar sambil terus membantu mereka dan tidak meninggalkan mereka. Orang-orang yang beriman yang membantu orang-orang yang terkena musibah lebih baik daripada orang-orang beriman yang tidak membantu dan tidak merasa terusik karenanya.
    ·         Dan cara terbaik untuk membantu mereka adalah melakukan apa pun yang baik untuk mereka, itu lebih baik daripada menutup diri dari mereka. Bagaimanapun, jika kau tahu bahwa menolong mereka akan mengurangi penderitaan mereka, lebih baik daripada meninggalkan mereka.
    ·         Jadi, hal terbaik yang kau lakukan dalam segala keadaan adalah apa pun yang menyenangkan Allah ketika itu dan keadaan itu dan pusatkanlah perhatian pada kewajiban utama ketika itu. Lakukan apapun yang penting dan perlu untuk mengatasi bencana itu.
    ·         Hal yang paling penting bukanlah benda.

Lima Tata Krama ketika Belajar :


1.      Bertanyalah dengan cara yang baik,
2.      Diamlah dan menyimak dengan baik,
3.      Mengerti dengan baik,
4.      Menghafalnya,
5.      Ajarkan ilmu yang kau peroleh.

·         Ini buah dari belajar, praktikkan apa yang telah kau pelajari dan jangan berlebihan.
·         Sesungguhnya ada ruang kosong didalam hati yang tidak dapat di hilangkan kecuali oleh Allah Subhanahuwa ta’ala.
·         Ada kesedihan yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan kebahagiaan karena mengenal Allah Subhanahuwa ta’ala dan jujur terhadap-Nya.
·         Ada kekosongan yang tidak dapat diisi kecuali dengan mencintai-Nya dan dengan menghadapkan wajah kita kepada-Nya dan selalu mengingat-Nya.
·         Dan jika seseorang diberikan dunia dan seisi, tetap tidak akan bisa mengisi kekosongan itu.
·         Setiap cinta yang mengakibatkan jauh dari cinta-Nya adalah hukuman, hanya cinta yang membawa kita ada cinta-Nya, itulah cinta sejati.
·         Sesungguhnya apa pun yang hilang dari seorang hamba Allah akan diganti, tetapi ketika ia kehilangan Allah, tidak aka nada yang bisa menggantikan-Nya. 

Cinta Allah


Ibnu Qayyim mengatakan bahwa ada 10 hal yang bisa membuat kita dicintai Allah.
1.      Membaca Al-Quran dengan perenungannya dan pengertian akan maknanya.
2.      Mencari kedekatan pada Allah dengan cara melakukan kegiatan social di samping melaksanakan ibadah wajib, karena itu semua membawa kita ke tingkat cinta yang tertinggi.
3.      Mengingat Allah pada kesempatan apa pun pada waktumu sendiri, dengan hati ataupun perbuatan.
4.      Mengutamakan apa yang di cintai-Nya daripada apa yang kau cintai ketika keinginanmu begitu kuat.
5.      Biarkan hatimu mengingat Nama-nama-Nya dan Atribut-atribut-Nya.
6.      Renungkan begitu banyaknya kebaikan dan berkah Allah baik yang tampak  maupun yang tidak, karena itu membawa kepada cinta-Nya.
7.      Lembutkan hatimu ketika Shalat.
8.      Sendiri bersama-Nya ketika ia turun pada sepertiga terakhir malam. Dan ini artinya memohon pada-Nya, mengucapkan firman-firman-Nya, berdiri dengan segala ketulusan dan penyerahan, lalu mengakhirinya dengan permohonan ampun pada-Nya.
9.      Duduk bersama dengan mereka yang mencintai Allah dengan tulus.
10.  Menjauhi segala hal yang menciptakan penghalang antara hatimu dan Allah.

·         Duduk bersama orang-orang yang dapat menghilangkan ego dan kecongkakan dari hatimu.
·         Ketika Allah menganugerahi Nabi Yusuf a.s. ketampanan paras, itu membuatnya masuk penjara. Tetapi ketika Allah menganugerahinya pengetahuan(ketika ia menafsirkan mimpi Raja) hal itu tidak saja mengeluarkannya dari penjara, tetapi juga menaikkan derajat sosialnya. Hal itu jelas memperlihatkan kepada kita kebaikan dari ilmu pengetahuan, dan keindahan raga tidak berarti apa pun.
·         Hati seperti burung: cinta adalah kepalanya kedua sayapnya adalah harapan dan ketakutan.
·         Selama seseorang berada di jalan yang benar, ia tidak perlu peduli kepada celaan orang-orang yang senang mencari kesalahan orang lain.
·         Tidak ada gunanya mencapai keyakinan dan kepastian selain dari Al-Quran.
·         Nabi Muhammad Saw. Menggabungkan takut kepada Allah Swt. Dan sifat yang baik karena takut kepada Allah Swt. Memperbaiki hubungan antara hamba dan Tuhannya, dan sifat yang baik memperbaiki hubungan antara hamba dan ciptaan-Nya. Jadi, takut terhadap Allah Swt. Membawa kasih sayang Allah Swt. Padanya, dan sifat yang baik mengundang kasih sayang sesama manusia kepadanya.

Dikutip : Buku The Great Wisdom from The Great Thinkers





SEPULUH SEBAB UTAMA KEGAGALAN SEORANG PEMIMPIN

Beberapa sebab kegagalan seorang pemimpin, karena dengan mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan sama pentingnya dengan mengetahui apa yang harus dilakukan :

1.   Ketidakmampuan menyusun perincian: Kepemimpinan yang efisien memerlukan kemampuan untuk mengorganisasi dan menguasai perincian. Tidak ada pemimpin sejati yang pernah “terlalu sibuk” untuk melakukan apa saja yang mungkin perlu dilakukan dalam kapasitasnya sebagai pemimpin. Kalau seseorang entah seorang pemimpin atau seorang pengikut, mengakui bahwa dia “terlalu sibuk” untuk mengubah rencananya atau memberi perhatian kepada suatu keadaan darurat, maka dia mengakui bahwa dirinya tidak efisien. Pemimpin yang sukses harus menguasai semua perincian yang berhubungan dengan posisinya. Itu berarti, tentu saja, mengharuskan dia memiliki kebiasaan mewakilkan perincian kepada para asisten yang cakap.

2.   Keengganan memberikan pelayanan yang dipandang rendah: pemimpin besar yang sejati bersedia, saat terpaksa, melakukan jenis pekerjaan apa saja yang mungkin mereka minta untuk dilakukan orang lain. “Yang terbesar diantara kamu akan menjadi pelayan semua orang” merupakan kebenaran yang diperhatikan dan dihormati oleh semua pemimpin yang cakap.

3.  Mengharapkan upah dari apa yang mereka “ketahui”, bukan apa yang mereka lakukan berdasarkan yang mereka ketahui: Dunia tidak membayar orang untuk hal yang mereka ketahui. Dunia membayar mereka untuk apa yang mereka lakukan, atau yang mereka ingin agar dilakukan orang lain.

4.  Takut bersaing dengan pengikut: Pemimpin yang merasa terancam jika salah seorang pengikutnya akan  merebut posisinya, cepat atau lambat ketakutannya akan menjadi kenyataan. Pemimpin yang kompeten akan melatih pengikutnya supaya bisa mendelegasikan pekerjaan kepada mereka, dan juga suatu perincian dari posisinya. Hanya dengan cara itu saja seorang  pemimpin bisa melipatgandakan dirinya dan mempersiapkan dirinya untuk berada dibanyak tempat, dan memberikan perhatian kepada banyak hal pada satu saat sekaligus. Merupakan kebenaran abadi bahwa orang menerima upah lebih besar untuk “kemampuan mereka membuat orang lain melakukan pekerjaan”, daripada yang mungkin bisa mereka terima dengan melakukan pekerjaan sendiri. Seorang pemimpi yang efisien, melalui pengetahuan tentang pekerjaannya dan magnetisme kepribadiannya, bisa sangat meningkatkan efisiensi orang lain, dan membuat mereka bisa memberikan lebih banyak pelayanan dan lebih daripada yang bisa mereka berikan tanpa bantuannya.

5.  Kurang imajinasi: Tanpa Imajinasi, pemimpin tidak mampu mengatasi keadaan darurat, serta menciptakan rencana  untuk membimbing para pengikutnya secara efisien.

6.   Mementingkan diri sendiri: Pemimpin yang mencaplok semua penghargaan bagi dirinya sendiri untuk semua pekerjaan yang dilakukan pengikutnya pasti akan menjadi sasaran kebencian. Pemimpin besar sejati tidak pernah merebut penghargaan milik orang lain. Dia sudah puas melihat penghargaan, kalau memang ada, diberikan kepada parap pengikutnya karena dia tahu kebanyakan orang akan bekerja lebih keras untuk mendapatkan pujian dan pengakuan daripada yang mereka lakukan untuk semata-mata mendapat uang.

7. Tidak sederhana: Pengikut tidak menghargai seorang pemimpin yang tidak memiliki kesederhanaan. Lebih-lebih ketidaksederhanaan, dalam bentuknya, merusak ketahanan dan vitalitas semua orang yang menganutnya.

8.  Tidak loyal: Barang kali seharusnya ini dicantumkan pada puncak daftar. Pemimpin yang tidak loyal atau tidak setia kepada orang kepercayaannya, kepada rekan-rekannya dan mereka yang berada diatasnya maupun dibawahnya, tidak akan lama bisa mempertahankan kepemimpinannya. Sifat tidak loyal menandai seseorang yang derajatnya lebih rendah daripada debu, dan menyebabkan orang itu menerima penghinaan yang patut diterimanya. Kurangnya  loyalitas menjadi penyebab utama kegagalan dalam setiap bidang kehidupan.

9.  Menekankan “wewenang” kepemimpinan: Pemimpin yang efisien memimpin dengan memberi dorongan, bukan dengan menanamkan rasa takut dalam hati para pengikutnya. Pemimpin yang berusaha memberi kesan kepada pengikutnya dengan wewenang termasuk dalam kategori kepemimpinan melalui paksaan. Kalau seorang pemimpin benar-benar merupakan pemimpin sejati, dia tidak perlu mengiklankan fakta itu selain dengan tindak tanduknya-rasa simpatinya, rasa pengertiannya, kejujurannya, dan peragaan bahwa dia mengetahui pekerjaannya.

10.  Menekankan jabatan: Pemimpin yang cakap tidak memerlukan jabatan atau “titel” untuk membuatnya dihormati oleh para pengikutnya. Orang yang terlalu menekankan pada jabatan biasanya tidak banyak memiliki hal lainnya untuk ditonjolkan. Pintu kantor seorang pemimpin sejati terbuka bagi semua orang yang ingin masuk, dan ruang kerjanya bebas dari formalitas atau perbatasan.

Ini semua termasuk dalam penyebab umum kegagalan seorang pemimpin. Setiap kesalahan ini sudah cukup untuk menyebabkan kegagalan. Pelajarilah daftar ini dengan cermat kalau anda ingin menjadi pemimpin dan memastikan bahwa anda bebas dari semua kesalahan tersebut.

Dikutip : Buku “Think & Grow Rich” Napoleon Hill



RENUNGAN

Ibu merupakan pahlawan bagi kita, hanya terkadang dalam perjalanan hidup kita sering melupakannya, 

karena berbagai alasan mulai dari faktor pekerjaan, tempat tinggal, ekonomi dll.


 Marilah kita bersyukur dan memuliakan serta membahagiakan ibu kita sendiri :)


 (a.r/red)

Hiduplah dalam Kesederhanaan

Pagi ini ditempat yang sunyi, aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, ditengah kesibukanku sebagai salah satu karyawan swasta di kota, aku belum pernah merasakan suasana yang seperti ini, dimana aku bisa mendengar bunyi kokok ayam, siulan burung dan gemuruh pepohonan yang selama ini tidak aku dapatkan di kota.

Iya inilah desaku “Kalisangka”, tempat dimana aku dilahirkan dan tempat dimana aku mulai berjuang melawan kehidupan.

Suasana di desa yang sunyi, damai penuh keramah tamahan membuatku tidak ingin beranjak pergi dari tempat ini. Namun hidup menuntut kita untuk terus belajar, berjuang dan bekerja keras maka dari itu aku memilih merantau ke kota (Surabaya) seperti kata orang tua bilang tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat. Dengan tujuan agar aku bisa belajar hidup mandiri tanpa ketergantungan lagi sama orang tua dan mulai berpikir layaknya orang dewasa.

Waktu terus berlalu, 4 tahun sudah aku lewati hari demi hari di kota, sampai tiba waktunya untuk pulang ke rumah tercinta ini, entah kenapa sesampainya dirumah perasaan begitu tenang, pikiran menjadi segar, fisik seakan terasa jadi sehat seakan rumah ini begitu antusias menyambut kedatanganku kembali.

Sebelum aku merantau dulu, aku sempat berfikir betapa enaknya mereka yang hidup di kota, semua yang diinginkan tersedia, fasilitas lengkap, teknologi serba ada, pusat perbelanjaan dimana-mana sedangkan didesa 360º berbanding terbalik dengan dikota.

Namun setelah aku merasakan kehidupan dikota, kenyataannya tidak demikian, kota menuntut kita untuk terus tenggelam di perbudak dunia yang menuntut kita untuk berfikir tentang materi dan materi itu saja. Sehingga kita lupa tujuan hidup kita didunia, prinsip kesederhanaan yang dididik dari kecil seakan tergerus gaya hedonisme kota.

Iya itulah kota dengan berbagai pernak perniknya memberikan daya tarik bagi setiap insan untuk berkunjung kesana namun sebagian dari mereka malah terjebak tipu daya kota dengan berbagai daya muslihatnya membuat mereka lupa diri siapa sebenarnya. Begitu mudahnya terbawa arus, tanpa sadar akan kehilangan kendali. Mereka kebanyakan tidak tahu kalau kota tidak memberikan jaminan ketenangan hati dan pikiran layaknya yang kita dapatkan di desa.

Bagaimanapun juga kita harus tetap berpegang pada prinsip hidup dan kepercayaan orang tua agar bisa menyeimbangkan kehidupan dikota ini.

Ini merupakan pengalaman pribadiku, bahwa hidup yang berharga itu adalah hidup yang bisa memberikan kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan tanpa tuntutan dunia apalagi sampai melupakan Sang Penguasa.

Hiduplah seperti yang Tuhan serukan, berbagilah dengan mereka yang membutuhkan, bergumullah dengan mereka yang berkekurangan, hiduplah untuk saling mengasihi, karena semua itu adalah kesederhanaan hidup dalam kebesaran Tuhan.

" Karena pada akhirnya tujuan kita hidup di dunia ini untuk kembali lagi pada sang ilahi "


(a.r/red)
Copyright © Ainur R. 2018 Berbagi Ilmu